{"id":1314,"date":"2025-09-05T02:50:00","date_gmt":"2025-09-05T02:50:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.coinspeaker.com\/id\/?p=1314"},"modified":"2025-09-05T02:50:00","modified_gmt":"2025-09-05T02:50:00","slug":"prediksi-bitcoin-5-september-2025-target-rp245-miliar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.coinspeaker.com\/id\/prediksi-bitcoin-5-september-2025-target-rp245-miliar\/","title":{"rendered":"Prediksi Harga Bitcoin 5 September 2025: Pasar Obligasi Global Terpuruk \u2013 Apakah Target Rp2,45 Miliar untuk BTC Tinggal Menunggu Waktu?"},"content":{"rendered":"
Harga Bitcoin<\/b><\/a> saat ini 5 September 2025 berada di kisaran Rp1,819.429.000 (sekitar $111.000) setelah berhasil menemukan pijakan di sekitar level Rp1,793.555.000 ($109.500). Dari sisi fundamental, tekanan besar sedang melanda pasar obligasi pemerintah global, dengan imbal hasil (yield) naik di seluruh wilayah Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Inggris.<\/p>\n Imbal hasil obligasi 30 tahun AS sedang menguji level 5%, obligasi jangka panjang Prancis sudah berada di atas 4% untuk pertama kalinya sejak 2011, dan yield obligasi Inggris (gilts) menyentuh level tertinggi dalam 27 tahun terakhir.<\/p>\n Di Jepang, imbal hasil obligasi 30 tahun telah menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah, memunculkan kekhawatiran akan potensi \u201ckeruntuhan pasar obligasi G7<\/a>\u201d, seperti dikemukakan oleh The Kobeissi Letter<\/i>.<\/p>\n The collapse of G7 bond markets:<\/p>\n Despite aggressive global central bank rate cuts, yields are surging in France, Japan, Germany, Canada, the US, and the UK.<\/p>\n The market is quite literally rejecting central bank interest rate cuts.<\/p>\n How did we end up here? https:\/\/t.co\/cA7UCGuokD<\/a> pic.twitter.com\/0CndO3fQ5l<\/a><\/p>\n \u2014 The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) September 2, 2025<\/a><\/p><\/blockquote>\n Lonjakan yield ini mencerminkan kombinasi dari tekanan inflasi, peningkatan utang yang sangat besar, serta tekanan dari sisi penawaran. Dampaknya terhadap Bitcoin cukup signifikan. Dalam sejarahnya, BTC pernah berfungsi sebagai aset berisiko sekaligus pelindung nilai (hedge<\/i>), tergantung pada apa yang menjadi penyebab lonjakan imbal hasil tersebut.<\/p>\n Beberapa lonjakan yield di masa lalu bisa menjadi petunjuk. Pada peristiwa taper tantrum<\/i> tahun 2013, nilai Bitcoin melonjak dari di bawah $100 menjadi lebih dari $1.000, saat investor mulai meninggalkan obligasi pemerintah. Pola serupa terjadi di tahun 2021, ketika yield naik karena kekhawatiran inflasi dan Bitcoin pun meroket hingga menyentuh $65.000.<\/p>\n Namun, situasi menjadi berbeda ketika bank sentral menjadi penyebab utama naiknya yield lewat kebijakan pengetatan moneter. Pada 2018, naiknya return obligasi riil menyebabkan aliran dana keluar dari Bitcoin, sehingga nilainya jatuh lebih dari 80%.<\/p>\n Siklus saat ini tampaknya lebih mirip dengan situasi tahun 2013 dan 2021. Total utang AS telah meningkat lebih dari $1 triliun hanya dalam waktu dua bulan, kini mencapai $37,3 triliun atau sekitar Rp611.599 triliun. Di saat yang sama, data dari Glassnode menunjukkan bahwa tingkat retensi holder Bitcoin terus naik, menjadi sinyal kuat bahwa BTC kini dianggap sebagai pelindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang fiat.<\/p>\n Bitcoin<\/b><\/a> telah berhasil keluar dari pola descending channel<\/i> dan mulai menunjukkan momentum kenaikan setelah berminggu-minggu bergerak menyamping. Saat ini, harga BTC berada di sekitar Rp1.816.856.000 ($110.819) dan sedang melakukan konsolidasi di atas level pivot Rp1.806.377.000 ($110.181).<\/p>\n Rata-rata pergerakan eksponensial 50 hari (50-EMA) kini menjadi level support penting, sedangkan batas atas terdekat yang harus diperhatikan adalah 200-EMA yang berada di Rp1.845.471.000 ($112.663).<\/p>\n Indikator RSI berada di angka 56, mencerminkan permintaan yang kembali muncul tanpa menunjukkan kondisi overbought. Jika harga berhasil menembus Rp1.844.813.000 ($112.600), potensi kenaikan selanjutnya bisa mendorong BTC ke level Rp1.895.478.000 ($115.600) hingga Rp1.928.825.000 ($117.500).<\/p>\n Untuk skenario penurunan harga, level support terdekat berada di Rp1.759.991.000 ($107.407) dan Rp1.723.171.000 ($105.215), yang menjadi acuan risiko yang cukup jelas bagi para trader.<\/p>\n Dalam gambaran jangka panjang, tren harga Bitcoin masih tergolong bullish karena terus bergerak dalam saluran naik sejak titik terendah tahun 2022. Saat ini, harga terkonsolidasi di sekitar Rp1.813.729.000 ($110.587), sedangkan rata-rata pergerakan mingguan 50 minggu (50-week SMA) berada di kisaran Rp1.571.615.000 ($95.922) dan menjadi area support yang kuat.<\/p>\n Indikator RSI saat ini berada di level 62, yang masih memberi ruang untuk kelanjutan kenaikan harga. Jika BTC berhasil menembus Rp2.001.025.000 ($134.487), maka proyeksi berdasarkan Fibonacci extension menunjukkan potensi lonjakan hingga Rp2.804.315.000 ($171.055) bahkan Rp3.790.859.000 ($231.241). Target maksimal berada di sekitar Rp4.758.100.000 ($290.000).<\/p>\n Area support jangka panjang yang harus diperhatikan berada di Rp1.710.045.000 ($104.379), Rp1.460.017.000 ($89.096), dan Rp1.224.748.000 ($74.732). Selama harga BTC tetap berada di atas Rp1.569.470.000 ($95.000), struktur supercycle<\/i> Bitcoin masih terjaga dan membuka peluang besar menuju pencapaian harga enam digit.<\/p>\n Bitcoin Hyper ($HYPER)<\/b><\/a> hadir sebagai proyek Layer 2 pertama yang dibangun secara native di atas jaringan Bitcoin dan ditenagai oleh Solana Virtual Machine (SVM). Visi utamanya adalah memperluas ekosistem Bitcoin dengan menghadirkan smart contract super cepat dan murah, mendukung pengembangan aplikasi terdesentralisasi (dApp), hingga menciptakan meme coin dengan biaya rendah.<\/p>\n Proyek ini memanfaatkan kekuatan keamanan Bitcoin yang telah terbukti, dikombinasikan dengan performa tinggi dari framework Solana. Hasilnya adalah platform yang mendukung berbagai use case baru, seperti bridging<\/i> BTC tanpa hambatan dan pengembangan dApp yang dapat diskalakan.<\/p>\n Fokus tim proyek sangat kuat pada transparansi dan skalabilitas. Untuk membangun kepercayaan investor, Bitcoin Hyper telah menjalani audit menyeluruh oleh pihak ketiga bernama Consult.<\/p>\n Antusiasme investor terlihat dari progres presale yang terus meningkat. Saat ini, dana yang telah terkumpul dalam presale sudah menembus $13,7 juta<\/b><\/a> atau sekitar Rp224,544,300,000. Hanya tersisa alokasi terbatas yang tersedia saat ini.<\/p>\n Harga token HYPER di tahap sekarang masih berada di Rp210 ($0.012855)<\/b><\/a>, namun nilai ini akan meningkat seiring dengan perkembangan tahapan presale berikutnya.<\/p>\n Pembelian token HYPER bisa dilakukan langsung melalui situs resmi Bitcoin Hyper<\/b><\/a>, baik menggunakan crypto maupun kartu bank.<\/p>\n\n
Pelajaran dari Sejarah Harga Bitcoin<\/b><\/h2>\n
\n
Analisis Teknikal Jangka Pendek Bitcoin (BTC\/USD)<\/b><\/h2>\n
<\/p>\nOutlook Teknikal Jangka Panjang Bitcoin (BTC\/USD)<\/b><\/h2>\n
<\/p>\nPresale Bitcoin Hyper ($HYPER): Gabungan Keamanan Bitcoin dan Kecepatan Solana<\/b><\/h2>\n
<\/p>\n