Michael Saylor Takkan Mundur Meski MSTR Turun, Presale Bitcoin Hyper Raup $28,3 Juta

Pendiri Strategy, Michael Saylor, takkan mundur dari Bitcoin meski saham MSTR turun 41%, sementara Bitcoin Hyper telah mendapatkan $28,3 juta dari presale yang sedang berlangsung.

Alvaro Pradipta By Alvaro Pradipta Updated 5 mins read
Michael Saylor Takkan Mundur Meski MSTR Turun, Presale Bitcoin Hyper Raup $28,3 Juta

Key Notes

  • Saham DAT diperdagangkan di bawah kepemilikan Bitcoin bersih mereka karena volatilitas, arus keluar ETF, dan risiko indeks menghantam model perbendaharaan digital.
  • Michael Saylor tidak akan mundur meskipun MSTR mengalami penurunan 41%
  • Arus modal bergeser ke proyek utilitas seperti Bitcoin Hyper yang telah mengumpulkan lebih dari $28,3 juta (Rp472 miliar) melalui presale.
  • .

Di tengah tekanan arus keluar ETF dan volatilitas, saham DAT kini diperdagangkan di bawah nilai Bitcoin bersihnya. Michael Saylor dari MSTR tetap tidak gentar meski saham anjlok 41%, berpegang pada keuntungan $6,1 miliar dari kepemilikan 649.870 BTC. Fokus pasar bergeser ke infrastruktur L2 yang mengatasi kecepatan Bitcoin, seperti Bitcoin Hyper.

Proyek Bitcoin Hyper (HYPER) kini melampaui $28,3 juta atau setara Rp472 miliar dalam presale. HYPER menggunakan SVM dan ZK proofs untuk menghadirkan DeFi Bitcoin yang cepat dan murah, menawarkan solusi yang kontras dengan model treasury digital yang sedang goyah.

Saham MSTR Tertekan, Saylor Tetap HODL di Tengah Gelombang Arus Keluar ETF

Model perusahaan Digital Asset Treasury (DAT), yang menumpuk Bitcoin sebagai aset utama, kini menghadapi periode paling menantang. Harga saham perusahaan-perusahaan ini sedang “berdarah,” diperdagangkan jauh di bawah nilai bersih Bitcoin yang mereka miliki.

Data menunjukkan bahwa saham-saham utama DAT telah anjlok antara 80–95% dari puncaknya, meskipun harga Bitcoin spot sendiri masih diperdagangkan di kisaran harga yang relatif tinggi, antara pertengahan $80.000 hingga $90.000-an.

Tekanan ini diperparah oleh sentimen pasar yang negatif, terutama terlihat dari produk investasi. Minggu lalu, BlackRock’s iShares Bitcoin Trust (IBIT) mengalami penarikan dana (outflow) sebesar $523 juta, angka penarikan harian terbesar sepanjang sejarah aset tersebut.

BTC ETF Flows - Bitcoin Hyper

Fenomena arus keluar ETF spot Bitcoin ini semakin memperkuat kekhawatiran terhadap likuiditas dan stabilitas model DAT. Beberapa pesaing DAT bahkan telah mengambil langkah drastis dengan menjual sebagian kepemilikan Bitcoin mereka untuk menyehatkan neraca keuangan.

Namun, di tengah kepanikan ini, Michael Saylor dari MicroStrategy (MSTR) tetap menjadi anomali. Saylor, yang dikenal sebagai pendukung teguh Bitcoin, menepis ketakutan akan keruntuhan DAT.

Ia dengan tenang mengabaikan penurunan saham MSTR sebesar 41% dengan menyoroti keuntungan $6,1 miliar yang belum terealisasi dari 649.870 koin Bitcoin di perbendaharaan perusahaannya. Saylor menegaskan tesis jangka panjangnya: terus menjadikan Bitcoin sebagai crypto terbaik untuk dibeli.

Di sisi lain, investor mulai mencari alternatif yang lebih berorientasi pada infrastruktur. Daripada membeli saham DAT yang berdiskon dan berharap kesenjangan harga akan tertutup, kini muncul rotasi modal besar-besaran menuju Layer 2 (L2) Bitcoin.

Proyek-proyek L2 ini berupaya menyelesaikan masalah klasik Bitcoin, yaitu kecepatan transaksi dan biaya yang tinggi. Bitcoin Hyper (HYPER) memimpin pergerakan ini, di mana presale-nya telah mengumpulkan lebih dari $28,3 juta atau sekitar Rp472 miliar, menandakan perubahan fokus pasar dari sekadar kepemilikan menjadi utilitas fungsional Bitcoin.

Bitcoin Hyper Mengubah BTC Menjadi Kolateral Produktif Melalui Layer-2

Jika Michael Saylor fokus pada akumulasi dan “HODL” Bitcoin sebagai aset treasury digital, proyek seperti Bitcoin Hyper (HYPER) mengambil langkah berikutnya: menjadikan Bitcoin sebagai aset yang benar-benar berguna dan produktif.

Gagasan intinya sederhana—Bitcoin adalah kolateral yang sempurna, namun lapisan dasarnya (Layer 1) lambat, mahal, dan tidak mendukung kontrak pintar (smart contracts). Keterbatasan ini menghambat potensi Bitcoin di dunia Keuangan Terdesentralisasi (DeFi).

Bitcoin Hyper hadir sebagai solusi dengan membangun Layer 2 (L2) khusus Bitcoin. Arsitektur ini mengamankan jaringannya pada Bitcoin, memastikan keamanan yang tak tertandingi, sementara pemrosesan transaksi berkecepatan tinggi dialihkan ke Solana Virtual Machine (SVM).

layer2 bitcoin - bitcoin hyper

Integrasi SVM dipilih karena kemampuannya menawarkan throughput yang tinggi dan latensi yang rendah, menjadikannya ideal untuk aplikasi DeFi yang memerlukan kinerja cepat.

Cara kerjanya memanfaatkan ‘Jembatan Kanonikal’ (Canonical Bridge). Pengguna mengirimkan $BTC ke alamat Bitcoin yang diawasi; kontrak pintar SVM kemudian memverifikasi header blok dan bukti transaksi Bitcoin.

Setelah diverifikasi, jembatan akan mencetak sejumlah $wBTC (wrapped Bitcoin) yang setara di jaringan L2 Bitcoin Hyper. Dengan cara ini, $BTC dapat dipindahkan dengan finalitas hampir instan, digunakan dalam protokol DeFi, atau diakses oleh aplikasi terdesentralisasi (dApps).

Tujuan akhir Bitcoin Hyper jelas: menciptakan ekosistem Bitcoin yang lebih cepat, lebih murah, dan jauh lebih terukur.

Secara jangka panjang, $HYPER bercita-cita menjadikan Bitcoin pilihan alami bagi pemain institusional besar yang menuntut throughput tinggi dan biaya on-chain yang rendah. Ini adalah langkah maju untuk membawa Bitcoin dari sekadar penyimpan nilai menuju utilitas global.

Presale Bitcoin Hyper Raup $28,3 Juta dengan Potensi ROI 1.400%

Berlawanan dengan grafik saham Digital Asset Treasury (DAT) yang menunjukkan penurunan tajam, presale Bitcoin Hyper (HYPER) memperlihatkan tren yang sangat positif. Kampanye penggalangan dana ini kini telah melampaui angka $28,3 juta atau sekitar Rp472 miliar, menegaskan kuatnya minat investor terhadap solusi Layer 2 (L2) Bitcoin.

Saat ini $HYPER masih merupakan koin receh crypto yang dipatok pada $0,013325, dengan kenaikan harga bertahap direncanakan untuk tahapan selanjutnya. Daya tarik utama $HYPER tidak hanya terletak pada teknologinya, tetapi juga pada imbal hasil yang ditawarkan selama masa tunggu.

presale bitcoin hyper

Pembeli awal memiliki opsi untuk langsung ‘beli dan stake’ dalam satu proses, mengunci alokasi mereka untuk mendapatkan imbalan staking yang signifikan, yakni sekitar 41% per tahun sepanjang fase presale. Ini memberikan insentif keuntungan langsung sambil menantikan peluncuran mainnet.

Prediksi harga Bitcoin Hyper juga menjadi sorotan. Analisis harga yang beredar memproyeksikan token ini dapat mencapai $0,20 pada akhir tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada asumsi bahwa mainnet berhasil diluncurkan dengan mulus, tercapainya listing di bursa-bursa utama, dan narasi L2 Bitcoin terus menguat.

Jika skenario ini terwujud, HYPER sangat berpotensi menjadi koin naik 1000x, dengan tingkat pengembalian investasi (ROI) mentah bisa mencapai 1.400% pada 2026, bahkan melampaui 11.000% pada tahun 2030.

Namun, daya tarik penjualan ini melampaui sekadar perburuan laba. Investor berpartisipasi karena mereka mendukung pengembangan jaringan yang fundamental: menjadikan Bitcoin lebih cepat, lebih murah, dan dapat diprogram.

Dengan perkiraan jendela akhir presale antara Kuartal 4 2025 dan Kuartal 1 2026, waktu untuk berpartisipasi sebelum kenaikan harga semakin terbatas. Pelajari cara beli Bitcoin Hyper agar mempermudah Anda melakukan pembelian token di situs web resmi HYPER.

 

Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Coinspeaker Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. Coinspeaker Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.

Berita Bitcoin, Berita Kripto
Alvaro Pradipta

Alvaro Pradipta adalah analis crypto dan penulis senior di CoinSpeaker Indonesia dengan spesialisasi pada Bitcoin, Ethereum, dan aset digital berkapitalisasi besar. Dengan latar belakang di bidang Teknologi Informasi, Alvaro memiliki kemampuan untuk membedah aspek teknis blockchain sekaligus menjelaskan implikasinya terhadap harga dan adopsi. Sejak 2018, Alvaro aktif menulis ulasan pasar harian, analisis teknikal, dan liputan event crypto internasional. Gaya tulisannya memadukan analisis berbasis data dengan wawasan tren global, menjadikannya salah satu penulis yang banyak diikuti oleh pembaca setia CoinSpeaker Indonesia.

Artikel Terkait