Bitcoin tertekan di bawah $91.000 akibat ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian kebijakan ekonomi makro.
Arus keluar ETF Bitcoin yang mencapai miliaran dolar menambah beban jual signifikan bagi pasar.
Level support $90.000 menjadi penentu apakah harga Bitcoin akan bangkit atau justru lanjut terkoreksi.
.
Pasar kripto kembali terguncang setelah Bitcoin tergelincir di bawah level $91.000. Penurunan tajam ini memicu diskusi hangat mengenai prediksi harga Bitcoin untuk beberapa pekan ke depan. Banyak investor mulai mempertanyakan apakah koreksi ini merupakan peluang beli atau sinyal tren penurunan yang lebih dalam.
Situasi ini dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik dan tekanan makroekonomi yang berat. Ketidakpastian global membuat aset berisiko seperti BTC mengalami tekanan jual signifikan. Mari kita bedah faktor utama di balik volatilitas pasar yang terjadi saat ini.
Tantangan Baru BTC di Tengah Gejolak Global
Sentimen pasar terhadap prediksi harga Bitcoin kini cenderung lebih berhati-hati setelah BTC tergelincir ke bawah level $91.000. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik, ketidakpastian makro, serta tekanan dari arus keluar ETF.
Para trader kini dalam posisi waspada sembari menantikan kejelasan terkait rencana AS terhadap Venezuela, laporan non-farm payrolls, serta kebijakan tarif terbaru.
Laporan mengenai langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela turut menambah volatilitas di pasar global. Presiden Donald Trump baru-baru ini mengumumkan bahwa Venezuela akan menyuplai antara 30 hingga 50 juta barel minyak ke AS.
Secara langsung, hal ini memberikan tekanan bearish pada harga minyak mentah. Namun, di sisi lain, langkah ini bisa menciptakan iklim yang lebih menguntungkan bagi aset berisiko seperti kripto karena dapat meredam kekhawatiran inflasi dan membuka peluang kebijakan moneter yang lebih longgar.
Meski demikian, tekanan jangka pendek masih sangat terasa di pasar kripto secara luas. Saat ini, BTC diperdagangkan di kisaran $90.400, meski secara akumulasi mingguan masih mencatat kenaikan sekitar 1,1%.
Walaupun struktur pasar jangka panjang dinilai masih kokoh, momentum jangka pendek yang melemah membuat fokus kini beralih pada zona-zona support kunci untuk mencegah penurunan lebih lanjut.
Risiko Makro dan Geopolitik Membayangi Pergerakan BTC
Bitcoin terpaksa merelakan sebagian keuntungan yang diraih minggu lalu akibat tingginya ketidakpastian kebijakan makro, isu tarif, dan ketegangan geopolitik.
Kondisi ini membuat prediksi harga Bitcoin kian menantang, terlebih pasar Asia juga mulai merasakan dampak negatif yang menambah tekanan jual. Fokus utama investor saat ini tertuju pada rilis data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat serta potensi putusan Mahkamah Agung terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
Data NFP yang akan dirilis Jumat ini menjadi indikator krusial karena sangat memengaruhi arah suku bunga Federal Reserve.
Peluang Pemotongan Suku Bunga The Fed | Sumber: FedWatchTool
Jika data lapangan kerja menunjukkan pelemahan, hal ini menjadi sinyal perlambatan ekonomi yang dapat memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed di akhir tahun. Namun, sebelum kepastian itu muncul, pasar cenderung memilih langkah aman.
Di sisi geopolitik, selain situasi AS-Venezuela yang dinantikan konfirmasinya, perselisihan diplomatik antara China dan Jepang justru semakin memanas.
Langkah Beijing yang meluncurkan investigasi anti-dumping dan pembatasan ekspor terhadap Jepang telah menggerus sentimen risk-on yang biasanya dibutuhkan aset digital untuk menguat.
Kombinasi ketidakpastian makro dan tensi geopolitik ini meningkatkan risiko penurunan jangka pendek bagi Bitcoin.
Sejak awal pekan, pasar kripto secara umum bergerak melemah mengekor aset tradisional. Rentetan peristiwa penting yang terjadi secara bersamaan ini memaksa para trader untuk tetap waspada, sehingga pergerakan harga terjebak dalam rentang yang terbatas (rangebound).
Tekanan Institusional dan Data On-Chain
Produk investasi institusional Bitcoin tengah menghadapi tekanan berat di tengah volatilitas pasar yang tinggi. Setelah mencatatkan salah satu performa kuartal keempat (Q4) terburuk sejak 2017, sorotan kini tertuju pada ETF Bitcoin spot yang sangat memengaruhi prediksi harga Bitcoin.
Arus keluar (outflow) bersih dari ETF yang melampaui $1 miliar pada Desember 2025 menjadi beban jual jangka pendek yang signifikan bagi pasar.
ETF Bitcoin Sport | Sumber: CoinGlass
Aksi jual ini ternyata masih berlanjut hingga memasuki awal tahun 2026. Meski dua sesi awal ETF Bitcoin sempat menunjukkan permintaan kuat dengan arus masuk sebesar $1,168 miliar, tiga sesi terakhir justru mencatatkan arus keluar sebesar $1,12 miliar.
Dinamika ini membuat total aliran dana bersih hanya berada di posisi positif tipis, mencerminkan keraguan investor besar di tengah ketidakpastian ekonomi.
Fenomena arus keluar dari ETF memaksa partisipan resmi (authorized participants) untuk menjual aset fisik Bitcoin mereka guna memenuhi penebusan. Hal ini secara langsung meningkatkan tekanan jual di pasar spot dan memicu koreksi harga.
Namun, situasi ini tidak sepenuhnya bersifat bearish. Jika kondisi pasar global mulai stabil dalam beberapa minggu ke depan, aliran dana masuk ke ETF berpotensi pulih dan menyeimbangkan kembali pergerakan harga.
Prediksi Harga Bitcoin: Apakah Bitcoiin Mampu Bertahan di Atas Support $90.000?
Pada grafik harian, Bitcoin sedang berkonsolidasi di sekitar level psikologis $90.000 setelah sempat tertahan di angka $94.000 pekan lalu.
Meski sempat merosot tipis, BTC sejauh ini berhasil kembali ke atas area kunci tersebut. Dinamika ini menjadi titik krusial bagi prediksi harga Bitcoin untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Grafik Harga BTC/USDT | Sumber: TradingView
Indikator RSI saat ini berada sedikit di atas level 50, menunjukkan pertarungan sengit antara pembeli dan penjual.
Sementara itu, histogram MACD masih memancarkan sinyal positif dengan grafik hijau di atas garis nol. Dalam koreksi terbaru, Moving Average 50-hari (MA-50) terbukti menjadi penyangga yang kuat, didukung oleh MA-10 dan MA-20 yang penting untuk menjaga momentum.
Namun, nasib teknis BTC ini sepenuhnya bergantung pada support $90.000. Jika level ini gagal dipertahankan, harga berisiko merosot menuju $86.500. Dalam skenario terburuk di mana tekanan jual meningkat, Bitcoin bisa terjun ke zona support utama di $84.500.
Saat ini, momentum pasar masih cenderung netral; kubu bulls sedang berupaya bangkit, sementara para trader cenderung bersikap wait-and-see menanti sinyal pembalikan arah yang lebih valid.
Bitcoin Hyper (HYPER): Alternatif Cerdas di Tengah Ketidakpastian Pasar
Di tengah fluktuasi pasar yang menguji nyali, proyek Bitcoin Hyper (HYPER) justru mencuri perhatian lewat capaian luar biasa di fase presale.
Sebagai solusi Layer-2 yang mengadopsi kecepatan Solana Virtual Machine (SVM) ke dalam keamanan jaringan Bitcoin, proyek ini telah mengumpulkan pendanaan fantastis lebih dari $30 juta (sekitar Rp502 miliar) melalui presale crypto yang digelar.
Angka ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor institusional dan ritel terhadap utilitas nyata yang ditawarkannya, terutama saat banyak pihak mulai meragukan stabilitas aset kripto lainnya.
Presale Bitcoin Hyper | Sumber: Bitcoin Hyper
Saat ini, token $HYPER masih ditawarkan dengan harga presale yang cukup kompetitif di kisaran $0,013555. Hal yang membuatnya semakin menarik bagi para holder jangka panjang adalah fitur staking yang sudah aktif dengan imbal hasil atau APY mencapai 38%.
Tingginya partisipasi dalam staking ini—dengan lebih dari 1,3 miliar token yang telah dikunci—tidak hanya memberikan pendapatan pasif bagi investor, tetapi juga membantu menjaga stabilitas pasokan di pasar.
Banyak analis yang memasukkan proyek ini ke dalam prediksi harga Bitcoin dan ekosistem turunannya sebagai salah satu aset dengan potensi pertumbuhan asimetris di tahun 2026.
Dengan kemampuan pemrosesan hingga puluhan ribu transaksi per detik dan biaya yang sangat rendah, HYPER berpotensi menjadi tulang punggung baru bagi ekosistem DeFi dan meme coin di jaringan Bitcoin.
Bagi mereka yang mencari peluang di luar aset utama, Bitcoin Hyper menawarkan kombinasi unik antara teknologi infrastruktur dan insentif komunitas yang solid.
Pelajari seberapa potensial HYPER untuk menjadi primadona di ruang layer-2 dengan membaca prediksi harga Bitcoin Hyper. Ikuti panduan cara beli Bitcoin Hyper untuk dapat berpartisipasi dalam presale ini secara aman.
Disclaimer:Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Coinspeaker Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. Coinspeaker Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.
Alvaro Pradipta adalah analis crypto dan penulis senior di CoinSpeaker Indonesia dengan spesialisasi pada Bitcoin, Ethereum, dan aset digital berkapitalisasi besar. Dengan latar belakang di bidang Teknologi Informasi, Alvaro memiliki kemampuan untuk membedah aspek teknis blockchain sekaligus menjelaskan implikasinya terhadap harga dan adopsi.
Sejak 2018, Alvaro aktif menulis ulasan pasar harian, analisis teknikal, dan liputan event crypto internasional. Gaya tulisannya memadukan analisis berbasis data dengan wawasan tren global, menjadikannya salah satu penulis yang banyak diikuti oleh pembaca setia CoinSpeaker Indonesia.
Kami menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami. Jika Anda terus menggunakan situs ini, kami akan menganggap Anda setuju dengan hal tersebut.Ok