Bitcoin anjlok ke level terendah tiga minggu akibat ketegangan geopolitik yang meningkat.
Analis teknikal memperingatkan potensi penurunan lanjutan jika zona support kunci gagal bertahan.
Investor mulai melirik presale Bitcoin Hyper sebagai opsi lindung nilai di tengah volatilitas.
.
Bitcoin kembali terperosok ke level terendah dalam tiga minggu terakhir, menghapus seluruh keuntungan awal tahun 2026. Penurunan tajam hingga menyentuh $87.263 ini memaksa investor meninjau ulang prediksi harga Bitcoin di tengah memanasnya tensi geopolitik yang memicu aksi jual di pasar aset berisiko.
Koreksi ini menyeret BTC keluar dari zona nyaman $90.000–$96.000 yang terbentuk sejak awal Januari. Setelah sempat memuncak di $97.924 pekan lalu, harga terkoreksi sekitar 10% dan kini berjuang stabil di kisaran $89.890, menandakan volatilitas pasar global masih sangat tinggi.
Prediksi Harga Bitcoin: Level Support Kunci dalam Tekanan
Saat ini, fokus utama para pelaku pasar tertuju pada kemampuan Bitcoin untuk merebut kembali level teknis krusial agar tren tidak semakin memburuk. Kondisi ini sangat memengaruhi prediksi harga Bitcoin dalam jangka pendek, terutama setelah harganya tergelincir di bawah harga pembukaan tahunan.
Seorang trader bernama Wealthmanager mencatat bahwa BTC telah kehilangan area kendali (point of control), sebuah zona yang sebelumnya dianggap sebagai benteng pertahanan terdekat.
$BTC is testing the yearly open and POC, a critical level to hold.
Menurut analisisnya, jika harga bertahan lama di bawah zona ini, risiko penurunan menuju kisaran $80.000-an akan semakin terbuka lebar. Hal ini menegaskan betapa pentingnya level harga saat ini bagi kelangsungan tren pasar.
Di sisi lain, beberapa analis melihat struktur grafik yang mulai melemah dan memberikan sinyal peringatan.
Crypto Jelle menyoroti pola bear flag yang terbentuk selama dua bulan pada grafik harian, yang mengindikasikan potensi tekanan jual lebih lanjut. Ia memperingatkan bahwa kegagalan mempertahankan level terendah baru-baru ini bisa menggeser momentum jangka pendek sepenuhnya ke tangan penjual.
$BTC has now formed a clear channel/flag structure.
Historically, many of these end up breaking down.
Lose the current lows again, and bears will be fully back in the driver's seat. pic.twitter.com/2P9JFQ7umi
Senada dengan itu, Lyvo Crypto juga mengamati bahwa Bitcoin telah menembus ke bawah garis support naik (ascending support) dari tren positif sebelumnya Ia berpendapat bahwa momentum bearish saat ini sedang mendominasi pergerakan harga, membuat pasar lebih rentan terhadap koreksi lanjutan.
Perbandingan dengan Siklus Sebelumnya
Banyak pengamat pasar mulai melihat sejarah untuk memahami situasi saat ini dan menyusun prediksi harga Bitcoin yang lebih akurat. Analis Crypto Bullet, misalnya, menyamakan struktur pasar Bitcoin saat ini dengan perilaku harganya pada awal tahun 2022.
Kala itu, penurunan tajam dari puncak siklus sempat diikuti oleh pantulan (rebound) sesaat, sebelum akhirnya harga kembali terjun lebih dalam. Ia mencatat bahwa Bitcoin kini telah terkoreksi sekitar 30% dari puncaknya pada bulan Oktober lalu.
Meski begitu, ia menekankan bahwa indikator rata-rata pergerakan (moving averages) jangka panjang yang krusial, seperti MA 50-minggu dan 200-minggu, belum benar-benar diuji.
People ask me what I think about that 2022 $BTC fractal
Well, as you can see it perfectly matches the current PA but there’re two significant differences:
Crypto Bullet juga menyoroti perbedaan waktu yang menarik antara koreksi saat ini dengan kejadian tahun 2022. Menurutnya, perkembangan harga selanjutnya mungkin baru akan terlihat lebih jelas pada akhir kuartal pertama tahun ini.
Analogi sejarah semacam ini memang sering menjadi acuan penting bagi para pedagang dalam mengambil keputusan. Namun, perlu diingat bahwa pola masa lalu hanyalah alat interpretasi, bukan jaminan pasti untuk memprediksi masa depan pasar.
Investor tetap disarankan waspada terhadap dinamika baru yang mungkin tidak tercermin dalam siklus sebelumnya.
Dampak Pasar yang Lebih Luas
Penurunan Bitcoin terjadi di saat pasar kripto secara umum sedang bergulat dengan ketidakpastian makroekonomi global. Situasi ini semakin mempertegas betapa sensitifnya prediksi harga Bitcoin terhadap sentimen risiko dunia saat ini.
Bagi investor maupun institusi besar, kondisi ini menjadi pengingat penting soal manajemen likuiditas dan penggunaan leverage yang bijak. Memperhatikan level support teknis menjadi sangat krusial, terutama ketika volatilitas pasar sedang tinggi-tingginya seperti sekarang.
Saat Bitcoin mencoba mencari pijakan untuk stabil, para pelaku pasar kemungkinan besar akan tetap bersikap waspada dan “wait and see”. Apakah BTC mampu merebut kembali posisi yang hilang atau justru lanjut konsolidasi, sangat bergantung pada kondisi pasar yang lebih luas.
Kepercayaan investor juga memegang peranan kunci dalam menentukan arah tren selanjutnya.
Pergerakan harga dalam waktu dekat ini tidak hanya penting bagi Bitcoin sendiri, tetapi juga akan memberikan sinyal bagi ekosistem aset digital secara keseluruhan.
Jika Bitcoin gagal pulih, dampaknya bisa merembet ke altcoin lain, termasuk meme coin, yang akan memperpanjang masa suram di pasar kripto.
Bitcoin Hyper (HYPER): Peluang Baru di Tengah Koreksi Bitcoin
Ketika pasar kripto utama sedang “berdarah” dan membuat prediksi harga Bitcoin terlihat suram, perhatian investor cerdas mulai beralih ke proyek inovatif bernama Bitcoin Hyper (HYPER).
Proyek ini menawarkan solusi Layer-2 untuk jaringan Bitcoin, dan justru menunjukkan performa yang kontradiktif dengan pasar global yang sedang lesu. Bukti antusiasme ini terlihat jelas dari capaian crypto presale yang luar biasa, di mana total dana yang terkumpul kini telah berhasil melampaui angka $30,8 juta (sekitar Rp521 miliar).
Presale Bitcoin Hyper | Sumber: Bitcoin Hyper
Momentum ini didorong oleh harga masuk yang sangat kompetitif, yakni hanya $0,013615 per token, memberikan peluang emas bagi investor ritel untuk masuk di tahap awal sebelum nilai aset meroket pasca peluncuran resmi nanti.
Daya tarik utama yang membuat investor betah adalah mekanisme staking dengan imbal hasil (APY) dinamis yang sangat tinggi, yang pada periode tertentu tercatat berada di atas 38%. Fitur ini memungkinkan pemegang token untuk tetap mendapatkan keuntungan pasif secara signifikan, bahkan ketika pasar sedang bearish atau stagnan.
Bagi banyak pedagang, Bitcoin Hyper dianggap sebagai strategi lindung nilai (hedging) yang efektif; mereka tetap terekspos pada ekosistem Bitcoin namun dengan potensi pertumbuhan eksponensial khas token baru.
HYPER sendiri merupakan proyek infrastruktur yang menawarkan jaringan layer-2 untuk Bitcoin. Jaringan tersebut ditenagai oleh Solana Virtual Machine (SVM), yang akan memberi kecepatan ala Solana untuk ekosistem Bitcoin.
Dengan fundamental yang kuat dan dukungan komunitas yang terus membesar, HYPER menjadi opsi diversifikasi yang menarik untuk menyeimbangkan portofolio di tengah badai volatilitas yang sedang menghantam Bitcoin saat ini.
Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Coinspeaker Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. Coinspeaker Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.
Alvaro Pradipta adalah analis crypto dan penulis senior di CoinSpeaker Indonesia dengan spesialisasi pada Bitcoin, Ethereum, dan aset digital berkapitalisasi besar. Dengan latar belakang di bidang Teknologi Informasi, Alvaro memiliki kemampuan untuk membedah aspek teknis blockchain sekaligus menjelaskan implikasinya terhadap harga dan adopsi.
Sejak 2018, Alvaro aktif menulis ulasan pasar harian, analisis teknikal, dan liputan event crypto internasional. Gaya tulisannya memadukan analisis berbasis data dengan wawasan tren global, menjadikannya salah satu penulis yang banyak diikuti oleh pembaca setia CoinSpeaker Indonesia.
Kami menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami. Jika Anda terus menggunakan situs ini, kami akan menganggap Anda setuju dengan hal tersebut.Ok