Vitalik Buterin prioritaskan skalabilitas bandwidth daripada kecepatan transaksi untuk menjaga desentralisasi jaringan Ethereum global.
Mainnet bertindak sebagai fondasi keamanan, sementara solusi Layer 2 menangani kebutuhan aplikasi hiper-lokal.
Presale Bitcoin Hyper kumpulkan $30,2 juta dengan harga $0,013545 dan penawaran APY 38%.
.
Vitalik Buterin menegaskan bahwa Ethereum tidak seharusnya hanya mengejar kecepatan transaksi. Batasan fisik dan prinsip desentralisasi membuat pengurangan latensi punya titik jenuh. Baginya, prioritas utama adalah memperluas kapasitas bandwidth agar jaringan tetap aman dan terdesentralisasi, bukan sekadar kompetisi angka transaksi per detik.
Visi ini menempatkan jaringan utama sebagai fondasi yang stabil, sementara kecepatan tinggi ditangani oleh solusi Layer 2. Berkat teknologi seperti PeerDAS dan ZK-EVM, adopsi tetap melonjak drastis hingga 110% pasca pemutakhiran Fusaka. Ini membuktikan bahwa skalabilitas jangka panjang jauh lebih penting bagi pengguna.
Prioritas Skala Bandwidth untuk Masa Depan Jaringan
Vitalik Buterin memberikan pandangan menarik mengenai arah pengembangan Ethereum ke depan. Ia menilai bahwa meningkatkan kapasitas bandwidth adalah langkah teknis yang jauh lebih aman dibandingkan sekadar memangkas waktu pembuatan blok.
Increasing bandwidth is safer than reducing latency
With PeerDAS and ZKPs, we know how to scale, and potentially we can scale thousands of times compared to the status quo. The numbers become far more favorable than before (eg. see analysis here, pre and post-sharding…
Melalui implementasi teknologi seperti PeerDAS dan Zero-Knowledge Proofs (ZKP), jaringan sebenarnya memiliki potensi untuk berskala hingga ribuan kali lipat dari kondisi saat ini tanpa harus menabrak batasan fisik yang berisiko bagi stabilitas.
Berbeda dengan kapasitas data, upaya mengurangi latensi atau jeda waktu transaksi memiliki tantangan besar, yakni kecepatan cahaya dan standar perangkat keras.
Agar tetap terdesentralisasi, jaringan harus tetap bisa dijalankan oleh validator rumahan di berbagai belahan dunia, bukan hanya oleh server raksasa di pusat data. Jika standar kecepatan dipaksakan terlalu tinggi, partisipasi publik akan menurun dan sifat anonimitas serta ketahanan sensor jaringan bisa terancam.
Meski begitu, Vitalik tetap optimis bahwa peningkatan moderat masih mungkin dilakukan. Melalui optimalisasi jaringan P2P, waktu konfirmasi blok mungkin bisa dipercepat 3 hingga 6 kali lipat menjadi sekitar 2-4 detik saja.
Namun, di luar angka tersebut, jaringan akan membentur batasan fisik dan ekonomi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan rekayasa perangkat lunak. Fokus pada skalabilitas yang sehat jauh lebih krusial untuk menjaga ekosistem tetap inklusif bagi semua orang.
Infrastruktur Berskala Kota untuk Kebutuhan AI
Vitalik Buterin berpendapat bahwa kemajuan kecerdasan buatan (AI) nantinya akan membutuhkan infrastruktur yang jauh lebih cepat daripada apa pun yang bisa disediakan oleh blockchain global saat ini.
Ia memberikan perumpamaan menarik: jika AI mampu berpikir 1000 kali lebih cepat dari manusia, maka secara subjektif “kecepatan cahaya” bagi AI hanya terasa seperti 300 km/jam.
Artinya, agar agen AI bisa berkomunikasi secara instan layaknya manusia berbicara, mereka butuh infrastruktur yang lokasinya sangat berdekatan, bahkan dalam skala satu kota atau satu gedung saja.
Realita ini membuat Ethereum diposisikan sebagai fondasi koordinasi tingkat planet, bukan sebagai “server video game” dunia yang mengejar kecepatan mentah. Untuk memenuhi kebutuhan aplikasi hiper-lokal yang butuh respons secepat kilat, solusi Layer 2 (L2) akan memegang peranan kunci.
L2 nantinya akan terbagi menjadi dua fungsi utama: melayani kebutuhan spesifik di wilayah geografis tertentu yang butuh latensi rendah, serta menyediakan kapasitas besar untuk kebutuhan skala global.
Visi ini mempertegas peran jaringan utama sebagai lapisan kepercayaan dan konsensus yang sangat aman, sementara ekosistem di atasnya bebas berinovasi sesuai kebutuhan kecepatan masing-masing.
Dengan pembagian tugas ini, seluruh ekosistem tetap terjaga integritasnya tanpa mengorbankan fungsionalitas bagi teknologi masa depan seperti AI.
Dari sisi komputasi, verifikasi blok idealnya hanya menggunakan sekitar 5-10% kapasitas CPU. Angka ini ditetapkan untuk memberi ruang bagi perlindungan serangan DoS, proses sinkronisasi saat perangkat baru menyala, hingga penghematan daya baterai pada perangkat portabel.
Jika beban kerja dipaksakan lebih tinggi, stabilitas jaringan secara keseluruhan justru terancam karena perangkat keras tidak lagi mampu menangani tugas latar belakang lainnya.
Kapasitas bandwidth juga menghadapi kendala serupa. Meski penyedia internet menawarkan kecepatan tinggi, kapasitas yang benar-benar bisa digunakan jauh di bawah angka teoretis tersebut.
Hal ini disebabkan oleh besarnya beban komunikasi antar-jaringan (P2P overhead) serta pembagian koneksi dengan aplikasi lain.
Sementara itu, dari sisi penyimpanan, batas maksimal yang dianggap sehat untuk perangkat konsumen adalah sekitar 512 gigabyte. Database yang terlalu besar hanya akan membuat biaya verifikasi membengkak secara eksponensial.
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan efek domino yang teknis: setiap kenaikan ukuran data akan meningkatkan waktu verifikasi jauh lebih besar daripada proporsi datanya.
Misalnya, kenaikan data sebesar 4 kali lipat bisa memicu perlambatan verifikasi hingga 6 kali lipat karena kompleksitas akses database.
Meski teknologi seperti statelessness mulai dikembangkan, batasan fundamental ini tetap menjadi acuan utama dalam menjaga Ethereum agar tetap bisa diakses oleh perangkat komputer biasa di seluruh dunia.
Metafora Linux: Menyeimbangkan Idealisme dan Adopsi Massal
Vitalik Buterin menyamakan posisi Ethereum dengan teknologi sumber terbuka seperti Linux dan BitTorrent. Menurutnya, Linux adalah contoh sukses bagaimana sebuah infrastruktur desentralisasi bisa menjadi tulang punggung bagi miliaran orang serta perusahaan besar tanpa mengorbankan prinsip dasarnya.
Metafora ini menunjukkan bahwa sebuah teknologi bisa tetap setia pada nilai kebebasan individu namun tetap cukup tangguh untuk digunakan oleh entitas raksasa secara global.
Dalam pandangan ini, jaringan ini mampu melayani dua sisi sekaligus: para pengguna idealis yang mengutamakan otonomi penuh, serta klien korporasi yang mencari infrastruktur tahan banting.
One metaphor for Ethereum is BitTorrent, and how that p2p network combines decentralization and mass scale. Ethereum's goal is to do the same thing but with consensus.
Another metaphor for Ethereum is Linux.
* Linux is free and open source software, and does not compromise on…
Menariknya, apa yang dalam dunia kripto disebut sebagai “sifat tanpa perantara” (trustlessness), bagi perusahaan besar dipandang sebagai langkah cerdas dalam meminimalkan risiko pihak lawan. Keselarasan nilai ini membuat institusi keuangan merasa lebih nyaman untuk mulai membangun di atasnya.
Data terbaru pun memperkuat tren ini, di mana pembuatan alamat baru mencapai angka 292.000 per hari setelah pemutakhiran Fusaka bulan Desember lalu.
Nama-nama besar seperti JPMorgan dan Deutsche Bank bahkan mulai mengembangkan produk tokenisasi berbasis jaringan ini. Hal ini membuktikan bahwa Ethereum bukan sekadar eksperimen teknologi, melainkan fondasi ekonomi masa depan yang mulai diterima secara luas di pasar global.
Bitcoin Hyper (HYPER): Solusi Layer-2 Bitcoin yang sedang Mencuri Perhatian
Di tengah perbincangan hangat mengenai skalabilitas blockchain, Bitcoin Hyper (HYPER) muncul sebagai narasi baru yang mencoba menggabungkan keamanan Bitcoin dengan kecepatan tinggi ala Solana.
Proyek ini memposisikan dirinya sebagai solusi Layer-2 yang memungkinkan transaksi BTC berlangsung instan dan murah. Pendekatan ini selaras dengan visi infrastruktur masa depan yang sempat disinggung para ahli, di mana jaringan utama tetap menjadi lapisan kepercayaan, sementara inovasi kecepatan terjadi di lapisan di atasnya.
Antusiasme pasar terhadap proyek ini terlihat sangat nyata melalui pencapaian angka-angka di fase awal. Saat ini, presale Bitcoin Hyper telah berhasil mengumpulkan dana lebih dari $30,2 juta atau sekitar Rp505 miliar, memposisikannya sebagai salah satu crypto presale paling diminati tahun ini.
Harga token $HYPER dalam tahap presale terbaru berada di $0,013545, dengan skema harga dinamis yang akan terus meningkat seiring berpindahnya tahap presale sebelum nantinya resmi melantai di bursa.
Bagi para pemegang token awal, daya tarik utama selain potensi kenaikan harga adalah program staking yang ditawarkan. Hingga saat ini, tingkat APY yang ditawarkan berada di angka sekitar 38%, yang telah menarik minat banyak pengguna untuk mengunci lebih dari 1,36 miliar token HYPER di dalam ekosistem.
Dengan perpaduan antara teknologi SVM (Solana Virtual Machine) dan fundamental Bitcoin, proyek ini berambisi membawa kegunaan aset kripto terbesar di dunia tersebut ke level yang lebih produktif bagi pengguna ritel maupun institusi.
Cari tahu potensi kenaikan harga HYPER setelah peluncuran resmi dengan membaca prediksi harga Bitcoin Hyper. Anda juga dapat mempelajari langkah-langkah untuk membeli HYPER dengan mengunjungi artikel tentang cara beli Bitcoin Hyper.
Disclaimer:Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Coinspeaker Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. Coinspeaker Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.
Alvaro Pradipta adalah analis crypto dan penulis senior di CoinSpeaker Indonesia dengan spesialisasi pada Bitcoin, Ethereum, dan aset digital berkapitalisasi besar. Dengan latar belakang di bidang Teknologi Informasi, Alvaro memiliki kemampuan untuk membedah aspek teknis blockchain sekaligus menjelaskan implikasinya terhadap harga dan adopsi.
Sejak 2018, Alvaro aktif menulis ulasan pasar harian, analisis teknikal, dan liputan event crypto internasional. Gaya tulisannya memadukan analisis berbasis data dengan wawasan tren global, menjadikannya salah satu penulis yang banyak diikuti oleh pembaca setia CoinSpeaker Indonesia.
Kami menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami. Jika Anda terus menggunakan situs ini, kami akan menganggap Anda setuju dengan hal tersebut.Ok