Hashrate Bitcoin Anjlok 12%, Dampak Badai Musim Dingin AS ke Jaringan

On Feb 2, 2026 at 1:54 am UTC by · 4 mins read

Hashrate Bitcoin anjlok drastis akibat badai musim dingin AS, menekan pendapatan miner dan menguji ketahanan jaringan secara nyata. Di tengah krisis fisik, inovasi tetap berjalan. Baca selengkapnya!

Aktivitas penambangan Bitcoin baru saja mengalami pukulan terberatnya dalam lebih dari empat tahun. Badai musim dingin parah yang melanda Amerika Serikat memaksa operator besar untuk menekan produksi, yang langsung menyeret hashrate jaringan, output, dan pendapatan miner ke bawah.

Data dari CryptoQuant menunjukkan hashrate kini berada di kisaran 970 exahashes per detik, level terendah sejak September 2025. Ini adalah pengingat nyata bahwa infrastruktur fisik di balik jaringan Bitcoin yang terdesentralisasi tetap rentan terhadap gangguan alam, sebuah faktor yang sering terlupakan di tengah analisis chart dan sentimen pasar.

Badai di AS Paksa Miner Matikan Mesin, Pendapatan Merosot Drastis

Penurunan hashrate semakin menjadi pekan ini. Cuaca ekstrem mengacaukan pasokan listrik di beberapa hub penambangan utama AS, memicu aksi darurat. Para penambang yang terdaftar publik terpaksa mematikan mesin sementara untuk melindungi infrastruktur dan menuruti permintaan pengurangan beban dari jaringan listrik.

Situasi ini memperburuk perlambatan yang sebenarnya sudah dimulai saat Bitcoin mundur dari rekor tertingginya di $126,000 atau sekitar Rp 2,11 miliar menuju level $100,000 akhir tahun lalu.

Dampak ekonominya langsung terasa. Pendapatan harian dari penambangan crypto terbaik ini terjun bebas dari sekitar $45 juta atau sekitar Rp 754 miliar pada 22 Januari, menjadi titik terendah tahunan di dekat $28 juta atau sekitar Rp 469 miliar hanya dalam selang dua hari.

Meski sempat sedikit pulih ke sekitar $34 juta, angka itu masih jauh di bawah rata-rata sebelumnya. Ini mencerminkan dua hal: aktivitas jaringan yang berkurang dan tekanan harga yang masih ada.

Produksi dan Profitabilitas Miner – Gambaran Suram Pasca-Badai

Data produksi menunjukkan kontraksi yang sama mengkhawatirkannya. Output dari penambang publik terbesar rontok dari sekitar 77 Bitcoin per hari menjadi hanya 28 Bitcoin. Produksi dari penambang lain juga merosot dari sekitar 403 Bitcoin menjadi 209 Bitcoin, menarik total output jaringan turun tajam.

Secara rolling 30-hari, penurunan produksi penambang publik mencapai 48 Bitcoin, yang terbesar sejak Mei 2024. Profitabilitas ikut hancur berbarengan. Indeks Profit dan Loss Sustainability Miner dari CryptoQuant ambles ke level 21, titik terendah sejak November 2024.

Level ini menandakan stres yang dalam di sektor ini, pendapatan tak lagi cukup menutupi biaya operasional untuk porsi jaringan yang semakin besar. Meski mining difficulty telah turun seiring mesin yang offline, penyesuaian itu belum cukup untuk mengimbangi harga yang turun dan gangguan operasional akibat cuaca ekstrem.

Jika hashrate tetap rendah, penyesuaian kesulitan lebih lanjut mungkin terjadi, yang bisa memberikan sedikit napas lega bagi operator yang bertahan.

Debat Terbuka – Apakah Penambangan Bitcoin Membebani atau Menguatkan Grid Listrik?

Di tengah krisis ini, muncul sudut pandang menarik dari peneliti independen Daniel Batten. Analisisnya menyatakan bahwa penambangan Bitcoin justru dapat memperkuat jaringan listrik dan menurunkan biaya untuk konsumen, bukan membebaninya.

Argumen ini, yang didukung studi peer-reviewed dan data operasional, menantang klaim umum bahwa aktivitas penambangan merusak stabilitas grid atau mendongkrak harga energi. Fleksibilitas konsumsi daya dari industri ini, menurut Batten, justru bisa memberikan manfaat yang terukur bagi sistem. Debat ini jadi sangat relevan saat jaringan fisik penambangan diuji ketahanannya.

Bitcoin Hyper – Fokus pada Inovasi Saat Fondasi Fisik Diuji

Sementara fondasi fisik jaringan Bitcoin sedang diterpa badai, inovasi di lapisan teknologinya tidak berhenti. Bitcoin Hyper ($HYPER) hadir dengan proposal sebagai solusi Layer-2 untuk Bitcoin, yang bertujuan meningkatkan skalabilitas dan efisiensi tanpa mengganggu protokol inti yang sudah teruji.

Menariknya, antusiasme terhadap visi teknis ini ternyata besar, tercermin dari keberhasilan presale mereka yang mengumpulkan lebih dari $31.1 juta atau sekitar Rp 521 miliar.

Bagi Anda yang tertarik mengeksplorasi cara beli Bitcoin Hyper, langkah awal yang aman adalah mengunjungi laman resmi Bitcoin Hyper. Token $HYPER saat ini dijual pada harga $0.013675 dalam tahap presale.

Sebelum berpartisipasi, lakukan riset mandiri (DYOR) yang mendalam. Ikuti perkembangan terbaru proyek dengan bergabung di akun X (Twitter) dan Telegram resmi mereka, dan pelajari semua detail teknis di laman resmi proyek.

Meski narasinya menarik, ingatlah bahwa investasi dalam presale memiliki risiko tinggi. Membuat prediksi harga Bitcoin Hyper pun bersifat spekulatif, namun proyek ini menawarkan perspektif jangka panjang yang berbeda di saat perhatian pasar tertuju pada gejolak hashrate dan cuaca ekstrem.

Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Coinspeaker Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. Coinspeaker Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.

Share:
Exit mobile version