Bitcoin memang langka, tapi terlalu transparan bagi bank sentral, itulah alasan Ray Dalio tetap memilih emas.
Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin semakin sering dibahas sebagai aset alternatif yang berpotensi mengubah sistem keuangan global. Minat institusi meningkat, ETF Bitcoin bermunculan, dan adopsi ritel terus meluas. Namun, di tengah narasi tersebut, suara skeptis dari tokoh besar keuangan dunia masih memiliki bobot tersendiri.
Ray Dalio, investor legendaris asal Amerika Serikat, kembali menegaskan pandangannya tentang posisi Bitcoin dalam sistem moneter global. Ia mengakui kelangkaan dan karakter Bitcoin sebagai bentuk uang, tetapi meragukan kemampuannya untuk masuk ke neraca bank sentral. Pandangan ini membuka diskusi menarik tentang peran Bitcoin, emas, serta inovasi baru yang mencoba menjembatani keterbatasan tersebut.
Ray Dalio dan Keraguan terhadap Bitcoin sebagai Cadangan Negara
Dalam wawancara terbarunya bersama pengusaha Nikhil Kamath, Ray Dalio memaparkan pandangan yang konsisten dengan sikapnya selama ini. Ia menyebut Bitcoin sebagai uang secara konsep, karena memiliki pasokan terbatas dan persepsi nilai yang diakui pasar.
Namun, Dalio menarik garis tegas ketika berbicara tentang standar aset cadangan bank sentral. Menurutnya, transparansi Bitcoin justru menjadi kelemahan bagi institusi negara. Setiap transaksi tercatat secara publik dan dapat dilacak, sehingga membuka potensi gangguan atau pembatasan oleh otoritas tertentu.
Risiko ini dianggap sulit diterima oleh pengelola cadangan negara yang mengutamakan stabilitas, kontrol, dan keamanan jangka panjang. Dalio menilai kondisi ini sangat berbeda dengan emas, yang lebih sulit dilacak dan dikendalikan ketika sudah berada di luar sistem keuangan tradisional.
Ia juga menyinggung aspek keamanan teknologi. Dalam pandangannya, kemungkinan Bitcoin diretas, dibatasi, atau dikontrol tetap menjadi faktor risiko yang memengaruhi keputusan bank sentral. Pertimbangan inilah yang membuat Bitcoin, meskipun menarik sebagai aset spekulatif dan lindung nilai, belum layak menjadi cadangan resmi negara.
Mengapa Emas Masih Menjadi Aset Favorit Ray Dalio
Pandangan Dalio tentang emas tetap konsisten. Ia melihat emas sebagai hard asset yang telah teruji oleh waktu, dengan karakter lindung nilai yang kuat terhadap inflasi dan intervensi negara.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Dalio mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berbasis utang dan lebih fokus pada aset langka seperti emas dan Bitcoin, terutama di tengah lonjakan utang global.
Meskipun begitu, ketika harus memilih, Dalio menempatkan emas di posisi teratas. Ia mengaku masih memiliki Bitcoin dalam portofolionya, tetapi porsinya kecil dan berada di bawah emas. Alasan utamanya kembali pada faktor keterlacakan dan potensi campur tangan.
Emas dinilai lebih “bersih” sebagai penyimpan nilai jangka panjang ketika tujuan utamanya adalah perlindungan dari kontrol negara. Pandangan ini mencerminkan dilema yang masih dihadapi Bitcoin. Di satu sisi, Bitcoin menawarkan kelangkaan digital dan desentralisasi.
Di sisi lain, sifat transparan dan ketergantungan pada infrastruktur digital menimbulkan tantangan tersendiri bagi institusi besar.
Sikap Dalio terhadap Stablecoin dan Aset Berbasis Fiat
Selain Bitcoin, Dalio juga menyinggung stablecoin. Ia memandang stablecoin kurang cocok sebagai alat penyimpan kekayaan karena nilainya terikat langsung pada mata uang fiat.
Stablecoin juga umumnya tidak menawarkan imbal hasil, sehingga fungsinya lebih condong sebagai infrastruktur transaksi daripada aset cadangan.
Menurut Dalio, stablecoin unggul dalam kecepatan dan kemudahan untuk transaksi jangka pendek. Ia menempatkannya sebagai alat pembayaran yang efisien, bukan sebagai sarana menyimpan nilai jangka panjang.
Pandangan ini semakin menegaskan preferensinya terhadap aset langka yang berdiri relatif independen dari kebijakan moneter negara.
Di tengah upaya industri crypto meraih legitimasi arus utama, komentar Dalio menjadi pengingat bahwa adopsi institusional tidak selalu berarti penerimaan penuh di level negara.
Bitcoin tetap dipandang sebagai bentuk uang alternatif, tetapi emas masih menjadi lindung nilai utama dalam perspektif investor konservatif kelas dunia.
Terlepas dari pendapat Dalio, faktanya saat ini banyak negara yang mulai berinvestasi pada Bitcoin, salah satunya adalah El Salvaldor. Negara yang menjadi kaya karena berinvestasi pada Bitcoin. Apalagi saat ini banyak perusahaan yang mulai melirik Bitcoin.
Bitcoin Hyper dan Evolusi Utilitas Bitcoin
Di tengah perdebatan tentang peran Bitcoin sebagai cadangan nilai, muncul inovasi yang berfokus pada peningkatan utilitas jaringan Bitcoin itu sendiri.
Salah satu proyek yang mulai menarik perhatian adalah Bitcoin Hyper ($HYPER). Proyek ini hadir bukan untuk menggantikan Bitcoin, melainkan untuk memperluas kemampuannya melalui solusi Layer-2.
Bitcoin Hyper dibangun sebagai jaringan Layer-2 Bitcoin yang mengedepankan performa tinggi, skalabilitas, dan dukungan smart contract.
Proyek ini memindahkan proses eksekusi ke luar jaringan utama Bitcoin, lalu menyelesaikannya kembali ke Bitcoin untuk menjaga keamanan.
Pendekatan ini berupaya menyeimbangkan desentralisasi dan efisiensi, dua aspek yang selama ini sulit dipadukan dalam ekosistem Bitcoin.
Teknologi yang digunakan mengadopsi Solana Virtual Machine, memungkinkan transaksi cepat dan biaya rendah tanpa mengorbankan fondasi keamanan Bitcoin.
Dengan model ini, Bitcoin Hyper membuka peluang baru bagi pengembangan DeFi, aplikasi terprogram, hingga ekosistem digital yang lebih luas di atas Bitcoin.
Dari sisi minat pasar, respons investor terlihat sangat kuat. Presale Bitcoin Hyper telah mengumpulkan hampir $29,6 juta, dengan harga token saat ini berada di level $0.013465 per token.
Partisipasi investor besar atau whale dengan nilai investasi enam digit menjadi sinyal kepercayaan terhadap potensi proyek ini. Dukungan juga datang dari sejumlah influencer crypto ternama di YouTube dan X, yang secara terbuka menyebut $HYPER sebagai kandidat koin yang akan naik 1000x berikutnya.
Bagi investor yang tertarik, mempelajari prediksi harga Bitcoin Hyper menjadi langkah awal untuk memahami potensi jangka panjangnya. Informasi tentang cara beli Bitcoin Hyper juga semakin banyak dicari, seiring mendekatnya akhir fase presale.
Proyek ini aktif membangun komunitas melalui akun X (Twitter) resmi dan kanal Telegram, sekaligus mengarahkan calon pengguna untuk mengunjungi situs resmi mereka guna mendapatkan detail teknis dan roadmap pengembangan.
Inovasi seperti Bitcoin Hyper menunjukkan bahwa meskipun Ray Dalio meragukan Bitcoin sebagai cadangan bank sentral, ekosistem Bitcoin terus berevolusi. Fokus bergeser dari sekadar penyimpan nilai menuju perluasan utilitas nyata.
Dalam konteks ini, Bitcoin mungkin tidak segera menjadi cadangan negara, tetapi pengembangannya tetap membuka peluang baru bagi investor dan pengguna di era crypto berikutnya.
Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Coinspeaker Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. Coinspeaker Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.
