Prediksi harga Bitcoin menurut ChatGPT dapat mencapai $175.000–$230.000 pada akhir 2026, didorong oleh akumulasi institusi dan efek halving. Di tengah konsolidasi, investor ritel mulai melirik Bitcoin Hyper sebagai alternatif berisiko tinggi namun menjanjikan.
Harga Bitcoin diperkirakan dapat menyentuh kisaran antara $175.000 hingga $230.000 atau sekitar Rp2,9 miliar hingga Rp3,8 miliar pada akhir tahun 2026, menurut analisis dari ChatGPT. Prediksi ini didasarkan pada pola historis siklus halving, meningkatnya volatilitas makroekonomi, serta kembalinya minat institusi terhadap aset digital.
Saat ini, Bitcoin masih berada di sekitar $89.000 atau sekitar Rp1,49 miliar, yang mencerminkan fase konsolidasi pertengahan siklus. Volume perdagangan dalam 24 jam terakhir melonjak lebih dari 130 persen, menandakan meningkatnya aktivitas pasar.
Bitcoin Masih Kesulitan Menembus Level $90.000
Saat ini, aset fisik seperti emas dan perak menunjukkan reli signifikan dan mencetak level tertinggi baru sepanjang masa. Pergerakan ini menjadi sinyal bahwa investor global sedang mengalihkan portofolionya ke aset lindung nilai yang lebih tahan terhadap inflasi.
Di tengah situasi ini, para pelaku pasar mengamati dengan cermat support di level $87.000 dan resistance di $88.600, meskipun sentimen pasar masih dipenuhi kehati-hatian. Harga Bitcoin saat ini berada di kisaran $89.400 atau sekitar Rp1,5 miliar, mengalami kenaikan harian sebesar 1,84 persen.
Meskipun demikian, indikator teknikal menunjukkan sinyal yang beragam. Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di level 44,94 yang menandakan momentum netral. Lebih mengkhawatirkan, tren harga secara keseluruhan masih tergolong bearish karena seluruh moving average utama memberikan sinyal jual.
Mulai dari Simple Moving Average (SMA) 50-hari di level $91.536 hingga Exponential Moving Average (EMA) 200-hari di $103.940, harga Bitcoin belum mampu melampaui garis tren utama tersebut. Resistance jangka pendek kini terbentuk antara $88.095 dan $88.602, sementara indeks Fear & Greed berada di level 24 yang mencerminkan sikap sangat hati-hati dari investor ritel.
Meskipun support di kisaran $87.000 masih berhasil menahan tekanan jual lebih dalam, pasar tetap dalam fase sideways. Volume perdagangan meningkat drastis hingga $31,64 miliar, namun analis meyakini lonjakan ini lebih banyak didorong oleh aktivitas konsolidasi, bukan oleh minat beli yang agresif.
Jika crypto terbaik ini gagal menembus $90.000 secara meyakinkan, ada risiko pola pergerakan seperti tahun 2019 akan terulang. Saat itu, harga bergerak datar cukup lama sebelum akhirnya melonjak akibat dorongan makroekonomi. Prediksi ChatGPT untuk tahun 2026 mengasumsikan skenario serupa, di mana akumulasi institusi, permintaan dari ETF, serta kelangkaan pasokan pasca halving akan menjadi pemicu lonjakan harga berikutnya.
Indikator On-Chain Menggambarkan Fase Akumulasi
Meskipun tekanan teknikal masih membayangi, pemegang jangka panjang tampak tidak terpengaruh. Data on-chain menunjukkan adanya peningkatan kepemilikan Bitcoin oleh wallet yang menyimpannya lebih dari enam bulan. Di sisi lain, trader jangka pendek justru cenderung menahan diri dari pasar saat ini.
Pola seperti ini juga pernah terlihat sebelum bull run besar di tahun 2017 dan 2020, dua periode yang sama-sama mengikuti siklus halving. Situasi saat ini terlihat hampir identik, ketakutan makroekonomi, harga yang stagnan, dan masuknya aliran modal ke aset penyimpan nilai alternatif.
Volatilitas pasar berada di level 2,15 persen, tergolong sedang. Harga pun baru saja pulih dari level terendah mingguan di sekitar $83.745 atau sekitar Rp1,4 miliar. Para analis memantau level $88.600 sebagai resistance terdekat. Jika berhasil ditembus, peluang untuk menguji ulang level $96.800 akan terbuka.
Namun dengan susunan moving average yang masih mendukung tren turun, Bitcoin membutuhkan pemicu fundamental untuk mengubah arah pergerakannya.
Pemicu ini bisa datang dari peningkatan arus masuk ke ETF Bitcoin, kepastian regulasi di negara-negara utama, atau peristiwa likuiditas besar. Proyeksi ChatGPT untuk tahun 2026 mengasumsikan bahwa setidaknya satu atau lebih katalis tersebut akan muncul sebelum akhir 2025.
Arah Angin Makro – Saat Emas dan Perak Melesat
Ketika pasar crypto masih ragu, aset tradisional seperti emas dan perak justru mencetak rekor tertinggi. Harga emas naik 1,21 persen dalam sepekan terakhir dan kini diperdagangkan di kisaran $4.482,50 atau sekitar Rp75 juta. Perak juga menunjukkan kekuatan, stabil di angka $2.415,16 atau sekitar Rp40 juta, dan sempat mencapai puncaknya di $2.697,59.
Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap inflasi, kebijakan suku bunga tinggi, serta ketidakpastian kebijakan bank sentral. Banyak analis percaya bahwa modal global mulai beralih ke aset berwujud seperti logam mulia dan aset digital untuk lindung nilai jangka panjang.
Dalam sejarahnya, Bitcoin kerap mengikuti arah tren emas, meski dengan sedikit jeda waktu. Contohnya pada tahun 2020, emas lebih dulu breakout sebelum Bitcoin akhirnya melesat ke level $40.000.
Korelasi yang sama juga muncul saat ini. Jika harga Bitcoin mampu bertahan di atas zona support utamanya, kemungkinan besar pola ini akan kembali terulang.
Prediksi harga Bitcoin dari ChatGPT bisa menyentuh $200.000 pada 2026 juga didasarkan pada asumsi bahwa tren rotasi ke aset bernilai tinggi akan terus berlanjut.
Ketika pemerintah kewalahan mengendalikan inflasi dan utang negara membengkak, investor biasanya mencari pelindung kekayaan alternatif yang kuat dan terbukti.
Bitcoin Hyper Makin Dilirik Saat Retail Cari Peluang Awal
Ketika harga Bitcoin masih kesulitan menembus resistance, investor ritel mulai melirik alternatif lain yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Salah satunya adalah Bitcoin Hyper ($HYPER), proyek berbasis Solana VM yang kini tengah memasuki tahap akhir presale. Hingga saat ini, proyek ini telah mengumpulkan lebih dari $28,8 juta atau sekitar Rp483 miliar dari investor awal.
Harga token $HYPER saat ini berada di $0.013495 atau sekitar Rp226, dan hanya tinggal sedikit waktu sebelum harga naik ke tahap berikutnya.
Bitcoin Hyper menawarkan fitur menarik seperti integrasi Web3Payments dan opsi pembelian multi-token, yang menjadikannya lebih mudah diakses oleh investor baru.
Dengan kemudahan ini, banyak investor ritel melihat peluang di saat harga Bitcoin terasa terlalu tinggi untuk dimasuki. Presale seperti ini biasanya mengalami lonjakan ketika Bitcoin mengalami fase konsolidasi.
Kondisi pasar yang stagnan sering kali mendorong trader untuk mencari peluang yang lebih asimetris. Proyeksi bullish ChatGPT terhadap adopsi crypto jangka panjang senada dengan keyakinan investor awal Bitcoin Hyper bahwa lonjakan besar berikutnya akan memberi imbal hasil besar bagi mereka yang sudah lebih dulu masuk.
Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut, silakan ikuti perkembangan terbaru proyek ini melalui akun X (Twitter) Bitcoin Hyper dan gabung bersama komunitasnya di Telegram mereka.
Pelajari lebih lengkap tentang fitur dan roadmap proyek ini melalui situs resminya. Tertarik dengan prospeknya? Simak juga prediksi harga Bitcoin Hyper dan pelajari langkah-langkah cara beli Bitcoin Hyper sebelum harga presale naik ke tahap selanjutnya. Waktu menjadi kunci, dan peluang seperti ini tidak datang dua kali.
Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Coinspeaker Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. Coinspeaker Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.
