Prediksi harga Bitcoin setelah BTC turun di bawah $90K sementara emas mencatat rekor di atas $4,755, menghasilkan rasio terendah sejak 2022.
Bitcoin kembali tergelincir ke bawah $90.000, berbanding terbalik dengan emas yang justru mencetak rekor $4.755 per ons akibat memanasnya ketegangan di Greenland. Situasi ini memengaruhi prediksi harga Bitcoin jangka pendek yang kini menjadi fokus utama analisis dari Michaël van de Poppe.
Penurunan ke level $89.655 ini menandai fenomena teknikal yang sangat langka. Untuk keempat kalinya dalam sejarah, rasio valuasi Bitcoin terhadap emas menyentuh indikator RSI 30, sebuah sinyal jenuh jual yang jarang terjadi dalam siklus pasar sebelumnya.
Rasio BTC-Emas Capai Level Terendah Sejak 2022
Tiga kejadian terakhir di mana indikator RSI rasio Emas-Bitcoin turun serendah ini terjadi pada titik terendah pasar bearish tahun 2015, 2018, dan 2022. Pola historis ini kembali terulang di awal 2026, memicu berbagai spekulasi mengenai prediksi harga Bitcoin yang tengah mencari momentum pembalikan.
Menurut Michaël van de Poppe, CIO MN Capital, data historis membuktikan bahwa Bitcoin saat ini sangat undervalued jika dibandingkan dengan emas, sehingga ini adalah waktu yang bijak untuk membeli.
Van de Poppe menekankan bahwa akselerasi vertikal harga emas menunjukkan seberapa cepat Bitcoin harus melakukan reli kejar (catch-up rally) agar tidak tertinggal lebih jauh.
This is the fourth time in history that the #Bitcoin valuation against Gold hits a RSI of 30.
The last three times:
– The low in 2015 bear market.
– The low in 2018 bear market.
– The low in 2022 bear market.History shows that #Bitcoin is extremely undervalued today relative… pic.twitter.com/vPde7aiHuo
— Michaël van de Poppe (@CryptoMichNL) January 19, 2026
Investor kripto terkenal, Ansem, turut menambahkan bahwa underperformance Bitcoin selama setahun terakhir terhadap emas disebabkan oleh pemegang lama dengan basis biaya di bawah $100.000 yang melakukan aksi jual massal, bertepatan dengan timing puncak siklus empat tahunan. Dia memperkirakan fase kapitulasi ini akan berakhir di tahun 2026.
i choose to believe that the past year of underperformance of bitcoin relative to gold is largely because of old holders with cost basis < $100 cashing out in tandem with four year cycle top timing and ends sometime in 2026, people with near 100% NW in crypto re-allocating as…
— Ansem (@blknoiz06) January 20, 2026
Ansem juga menyatakan bahwa Bitcoin berada di ambang reli besar seiring portofolio yang berat kripto melakukan realokasi, sementara emas dan perak berhasil menembus konsolidasi yang berlangsung selama satu dekade.
Sebagai analog digital dari emas, Bitcoin memiliki keunggulan signifikan: lebih mudah dipindahkan lintas negara, lebih praktis untuk bertransaksi, dan secara keseluruhan merupakan aset yang lebih superior di dunia yang semakin digital.
Kombinasi faktor fundamental dan teknikal ini membuat banyak analis optimis bahwa Bitcoin akan segera memulai fase pemulihan yang kuat dalam beberapa bulan mendatang.
Prediksi Harga Bitcoin: Konsolidasi Harian Mulai Sehat
Grafik harian Bitcoin menunjukkan fase konsolidasi setelah koreksi tajam, dengan struktur yang perlahan terlihat lebih konstruktif selama area support kunci tetap bertahan. Sejak titik terendah Desember, harga membentuk rangkaian higher low dan bergerak mengikuti garis tren naik, mengisyaratkan permintaan yang membaik serta pemulihan yang lebih terkontrol, bukan sekadar pantulan panik.
Prediksi Harga Bitcoin | Sumber: X/CryptoMichNL
Namun, penurunan terbaru dari zona $95.000–$97.000 terjadi ketika harga masih berada di bawah resistance yang jelas di sekitar $100.000–$101.000, menegaskan penjual masih aktif saat harga mencoba naik lebih tinggi.
Saat ini, area hijau $88.000–$90.000 menjadi wilayah paling krusial untuk dipertahankan pihak bullish. Zona ini selaras dengan trendline yang menanjak serta area konsolidasi sebelumnya, sehingga wajar bila pasar menganggapnya sebagai benteng jangka pendek.
Jika harga mampu bertahan di atas area tersebut, struktur besar tetap utuh dan peluang kelanjutan naik masih terbuka. Sebaliknya, jika terjadi breakdown yang berkelanjutan, skenario bullish akan gugur dan risiko retracement lebih dalam menuju kisaran awal $80.000-an ikut meningkat.
Di sisi momentum, RSI yang bertahan di level pertengahan 40-an menggambarkan kondisi netral—lebih mirip fase reset daripada tren yang sudah terlalu panas.
Dengan asumsi support $88.000–$90.000 terus terjaga, harga berpotensi merayap naik dan menguji lagi resistensi $100.000–$101.000. Breakout yang bersih di atas area itu akan memperkuat argumen bullish dan membuka ruang ke $105.000–$110.000.
Secara lebih luas, prospek bullish dinilai tetap valid selama BTC bertahan di atas puncak siklus sebelumnya sekitar $69.000 (2021); jika level itu ditembus, Ansem menilai kondisi tersebut bisa menjadi kapitulasi penuh dan peluang beli generasional, terlebih ketika rata-rata biaya Michael Saylor disebut sekitar $75.000.
Dari sisi waktu, ketiadaan ATH baru sepanjang 2026 dianggap dapat melemahkan tesis ini, terutama bila arus alokasi yang mendorong emas terus mencetak rekor belum beralih ke BTC meski kapitalisasi Bitcoin sekitar $2 triliun dibanding emas sekitar $32 triliun.
Bitcoin Hyper (HYPER): Tawarkan APY 38% di Tengah Antisipasi Breakout
Ketika Bitcoin akhirnya berhasil menembus dinding resistance psikologis di level $100.000, proyek-proyek dengan korelasi beta tinggi terhadap BTC diyakini akan mendapatkan keuntungan yang sangat signifikan.
Dalam berbagai analisis mengenai prediksi harga Bitcoin, momentum kenaikan harga aset induk seringkali memicu ledakan valuasi pada proyek infrastruktur pendukungnya.
Salah satu nama yang kini menjadi sorotan adalah Bitcoin Hyper (HYPER), sebuah proyek yang tidak hanya menawarkan potensi apresiasi harga, tetapi juga pendapatan pasif melalui tawaran APY sebesar 38% bagi investor presale.
Presale Bitcoin Hyper | Sumber: Bitcoin Hyper
Bitcoin Hyper memposisikan dirinya sebagai solusi Layer 2 fungsional pertama yang didedikasikan untuk Bitcoin. Proyek ini memanfaatkan keunggulan teknologi berbasis Solana untuk menghadirkan kecepatan transaksi tinggi dan skalabilitas masif, namun tetap mempertahankan model keamanan ketat khas Bitcoin.
Hingga saat ini, antusiasme pasar terbukti dari dana yang berhasil dikumpulkan crypto presale yang digelar yaitu lebih dari $30,8 juta (sekitar Rp521 miliar). Modal besar ini dialokasikan untuk membangun ekosistem aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang bersifat Bitcoin-native.
Inovasi ini memberikan peluang emas bagi pemegang BTC untuk tidak sekadar menyimpan koin mereka, tetapi juga mendayagunakan aset tersebut secara produktif menggunakan perangkat on-chain di dalam ekosistem Bitcoin itu sendiri.
Bagi Anda yang ingin bergabung dalam presale sebelum harga merangkak naik, partisipasi dapat dilakukan dengan mengunjungi situs resmi Bitcoin Hyper dan menghubungkan dompet digital seperti Best Wallet.
Token $HYPER saat ini dapat diperoleh dengan menukarkan USDT, ETH, atau SOL pada harga $0,013615.
Selain opsi kripto, proyek ini juga mempermudah akses investor konvensional dengan menyediakan metode pembayaran menggunakan kartu bank. Cara beli Bitcoin Hyper yang fleksibel ini dinilai sebagai langkah cerdas karena dapat membawa lebih banyak investor baru ke dalam proyek.
Tertarik dengan HYPER? Pelajari potensinya untuk lima tahun ke depan dan katalisator apa saja yang dapat memengaruhi pertumbuhannya dengan membaca prediksi harga Bitcoin Hyper.
Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Coinspeaker Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. Coinspeaker Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.
